Tuesday, February 26, 2013

Awal Mula Fansub


Fansub pada awalnya atau fansub-fansub "tradisional" diproduksi dengan menggunakan peralatan editing video analog. Mula-mula, mendapatkan sebuah kopi dari material aslinya. Sumber raw yang paling umum pada masa itu adalah laserdisc. Namun, tape VHS komersial atau rekaman rumahan pun bisa digunakan, yang tentu saja akan berpengaruh pada kualitas hasil akhirnya. Kemudian script translasi dibuat sama berdasarkan dialog yang ada pada video raw.
Lalu di-timing. Timing adalah proses untuk menempatkan "waktu awal" (Synch-Point) dan "waktu akhir" dari setiap baris dari subtitle; hal ini yang menentukan berapa panjang subtitle akan nampak di layar. Timing biasanya dilakukan oleh sebuah software komputer yang didesain secara spesifik untuk maksud tujuan tersebut. Orang yang melakukan timing akan menempatkan, mengubah, menghilangkan text subtitle menggunakan komputer. Dua program yang paling populer untuk hal ini adalah JACOsub (di Commodore Amiga) dan Substation Alpha (di MS Windows). Ketika skrip sudah ter-timing, angkah berikutnya adalah memproduksi satu buah master. Master berupa kualitas tinggi dari fansub yang sudah jadi - yang dari sini kopi-kopi untuk didistribusikan dibuat. Fansuber akan memutar ulang video raw di dalam perangkat komputer dengan sebuah genlock untuk menciptakan subtitle yang melekat pada gambar raw. Pilihan perangkat untuk membuat hal ini adalah Amiga PC - sama seperti yang digunakan subber profesional - tentu dengan harga yang luar biasa mahal. Hasil akhir dari proses ini yang disebut "master" kemudian direkam pada sebuah tape S-VHS dengan maksud untuk mengoptimalkan kualitasnya, meskipun beberapa fansuber terpaksa menggunakan VHS yang lebih murah dan tentu dengan kualitas lebih rendah. Setelah selesai, master ini dikirimkan kepada distributor.
Fansub distributor (yang mendistribusikan video ke fans-fans) biasanya adalah kelompok yang berbeda dengan fansubber yang melakukan translasi dan memproduksi master. Karena sebagian besar anggota dari kelompok fansub tidak mengharapkan keuntungan dari kegiatan mereka, maka fansub biasanya tidak "dijual". Pada umumnya, seorang fan yang menginginkan sebuah kopi dari anime yang diinginkan akan mengirimkan tape VHS blank ke distributor beserta pembayaran alakadarnya sebagai pengganti ongkos kirim. Distributor akan merekam master ke kaset yang dikirimkan "pelanggan", kemudian mengirimkannya kembali. Atau dengan cara lain, distributor dapat menjual VHS VHS kopian, namun dengan harga yang rendah ... yang hanya ditujukan untuk menutupi biaya kaset blank dan ongkos kirim.
Metode fansubbing seperti ini sangat menghabiskan biaya bagi para fansuber dan distributornya. Karena raw biasanya didapatkan dengan harga yang relatif mahal; hampir semua Anime dalam format Laserdisc (atau berupa tape) berharga lebih dari US$50, dan bahkan banyak yang lebih dari $100. Padahal setiap laserdisk yang seharga $50 biasanya berisi tidak lebih dari 30 menit. Jadi memperoleh raw berkualitas untuk satu seri penuh Anime dengan panjang seri pada umumnya bisa memakan biaya $1000. Juga, banyak kelompok fansub yang membayar translator professional untuk membuat script-nya. Belum lagi, perangkat produksi video yang dibutuhkan seperti : Lasedisc player, PC, genlock, dan recording deck untuk memproduksi master; ditambah lagi dua atau lebih video deck untuk bagian distribusi. Perangkat video seperti player, recorder dan editing deck pada waktu itu harganya luar biasa mahal; harganya dalam ribuan US dollar.
Kualitas video pada zaman fansub permulaan masih belum bagus. Mahalnya perangkat yang dibutuhkan memaksa beberapa kelompok fansub untuk menggunakan perangkat yang lebih murah namun dengan hasil yang lebih rendah. Bahkan ketika LD berkualitas tinggi sebagai raw material digunakan beserta perangkat-perangkat professional, hasil akhirnya tetap saja berupa kopi berkualitas kelas tiga. Sesungguhnya, sebagian besar fansub pada zaman itu bahkan mendistribusikan kopi-kopi ber kelas-empat dan kelas-lima, karena tidak menggunakan perangkat profesional. Meskipun kualitas rekamannya yang sangat rendah, namun kualitas translasi dan editingnya tidak berbeda jauh dengan fansub-fansub profesional modern.

No comments: